“Lia, bawa kain
panjang kesini ya. Om Rifki udah ga ada lagi,” kata mama di ujung telepon tadi malam.
إنا لله و إنا إليه راجعون
Masih belum percaya kalau beliau sudah tiada.
Hal yang
muncul di benakku saat itu juga adalah tentang Dinda, si kecil bijak yg sudah
kuanggap sperti adikku sendiri. Ia masih terlalu kecil untuk mengecap pahitnya
kehilangan sosok ayah.
Aku menyapu pandangan ke ruangan yang penuh dengan
orang-orang yang datang bertakziah. Mataku berhenti pada gadis kecil yg duduk
di atas kursi. Matanya merah, sembab. Ah, sayang.. tabahkan hatimu.
Aku duduk disampingnya. Membenamkan kepalanya dalam
dekapanku. Diam. Aku tak berkata apa-apa. Hanya merapatkan dekapanku. Tak ada
perbincangan. Air mata yang trus mengalir itu seolah bicara padaku tentang
pedihnya kepergian yang sangat tiba-tiba itu.
Sebelumnya aku sudah berjanji untuk tidak menangis.
Namun, ternyata aku ingkar. Jatuh juga butiran itu.
Beberapa kali ku usap air mata gadis kecil itu. Tak mau
berhenti jatuh. Terus mengalir deras. Tak apa. Menangislah, sayang. Biarkan air
mata membasuh perih dan kesedihanmu.
Dinda menggeleng saat ditanyakan apakah ia ingin melihat
Papanya dimandikan. Ia juga menggeleng menolak saat ditawarkan utk mengikuti
shalat jenazah Papanya. Ia belum kuat menerima kenyataan bahwa Papa nya kini
tidak bisa bangun lagi.
Aku memangku gadis 2 SD itu di kursi masjid. Untuk
mengalihkan kesedihannya, aku memperlihatkan video-video kucing kesukaannya.
Syukurlah, ia tersenyum dan tertawa, di tengah kerumunan orang-orang yang
bersiap untuk menyalati jenazah Papanya.
“Hihi.. lucu kali itu kucingnya, kak!” Ia terkekeh, meski
mata sembabnya masih tersirat di wajah imutnya. Aku ikut tersenyum melihat
tawanya.
Masjid kian ramai. Aku bisa melihat tatapan iba mereka
pada Dinda yg masih terlihat asik dgn video kucingnya. Ada juga yg ikut
tersenyum dan berusaha menghiburnya.
Jam menunjukkan pukul 00.00. Kini ia sudah terlelap di
pangkuanku, sampai akhirnya Mama membangunkannya utk membawanya melihat Papanya
untuk yg terakhir kali, sebelum dikafani.
Satu teguran bagi diriku sendiri pada malam itu, bahwa
kematian itu Haq. Tak ada yg kekal di dunia ini. Ajal bisa datang kapan saja.
Bahkan tanpa pertanda apa-apa.
Baliau meninggal, saat sedang bermain badminton bersama rekan-rekannya. Tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri.
Baliau meninggal, saat sedang bermain badminton bersama rekan-rekannya. Tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri.
اَللّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِاْلاِسْلاَمِ
وَاخْتِمْ لَنَا بِاْلاِيْمَانِ وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَ
فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي
بِالصَّالِحِينَ
Smoga amal ibadah beliau diterima di sisi Nya dan semoga
kesabaran keluarga di ganti dengan pahala yang berlipat…
إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ، وَلَهُ مَا
أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمَّى…فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ
Pangkalan Kerinci,
Penghujung Mei 2016 pukul 21.09
Oleh : Aulia Dwi Safitri

0 komentar:
Posting Komentar