Karena
kita, adalah dua rasa yang belum terikat. Maka izinkan aku tetap menikmati rasa
ini dalam diam.
Di
ujung jalan itu, kita bertautan. Dua wajah anak manusia tertunduk bisu. Dengan
merahnya yang bersemu, persis seperti senja yang merona saat itu. Keduanya tak
dapat mengelak akan getaran kalbu yang menyibak sukma. Namun, mereka tetap
berjalan tunduk dalam diam.
Ah,
lihatlah. Senja mungkin sedang menertawakan kita, melihat rona 2 insan yang
bertautan, yang sedang berusaha menyulubungi rindu dalam lubang bisu, dan
mencoba menata rasa dalam tatanan sayu.
Kita,
2 rasa yang belum terikat. Memilih untuk bisu. Menjauh dari harapan semu. Atau
mungkin saling melindungi hati dari patah yang kapan saja bisa saja terjadi.
Kau tahu bagaimana getirnya rasa itu? Saat rasa membuncah ingin menyapa, namun selalu tercekat lumpuh. Lidah kelu terlalu rapat menyimpan kata.
Terlalu banyak pesan yang tak tersampaikan, bongkahan rindu pun sudah sering kususun rapi, meski terkadang terserak begitu saja, saat ku dengar suara teduh khasmu membaca Kalam Allah mengimami shalat jama’ah di masjid. Atau saat tak sengaja mendengar kabarmu dari teman-teman.
Kau bilang dahulu, kita harus tetap menjaga hati dan saling memantaskan diri. Jangan sampai ada perasaan yang berada di luar batasnya. Ah, kali ini aku harus meminta maaf. Bahwa hati bukan aku yang mengendalikannya.
Harapan
itu jatuh begitu saja padamu. Hatiku sudah terlanjur jatuh, pada sosok teduh
dan rendah hati itu. Tapi tenanglah, aku akan tetap menjaga perasaan ini sendiri
dalam sunyi. Kupastikan kau takkan terusik dengan itu.
Merindumu,
aku tak pernah mampu bertahan sendiri. Di atas sajadah dalam hening malam, selalu ditemani do’a-do’a yang ku panjatkan.
Selalu ada detik-detik penuh debar di dalamnya, saat ku sebut namamu dengan
getar dalam untaian munajat yang mengalir indah, bersama rindu yang tumpah.
Semoga
rinduku dan rindumu telah bertemu dalam do’a yang melayang di angkasa malam
itu.
Dan seolah-olah, dalam diam kita telah sepakat; membiarkan kata tetap terlelap, hingga datang saatnya nanti ia terjaga, saat Allah ijabahkan segala yang kita harapkan, ia akan bersenandung dalam irama syahdunya.
Dan engkau memang baik, memenjarakan perasaan kita dalam diam, menjaga perasaan itu tetap suci.
“Hey, Tuan yang baik hati! Lalu kapan kau akan datang, dan menyuarakan semua kesunyian yang menyesakkan ini?
Aku menunggumu, Tuan. Selalu.”
Dan seolah-olah, dalam diam kita telah sepakat; membiarkan kata tetap terlelap, hingga datang saatnya nanti ia terjaga, saat Allah ijabahkan segala yang kita harapkan, ia akan bersenandung dalam irama syahdunya.
Dan engkau memang baik, memenjarakan perasaan kita dalam diam, menjaga perasaan itu tetap suci.
“Hey, Tuan yang baik hati! Lalu kapan kau akan datang, dan menyuarakan semua kesunyian yang menyesakkan ini?
Aku menunggumu, Tuan. Selalu.”

0 komentar:
Posting Komentar