Karena bahagia itu sederhana. Sesederhana saat menyajikan
semangkuk cinta untuk mereka yang engkau cinta....
Dari awal saat ditawari untuk menikah, hal pertama yang
kufikirkan adalah aku merasa belum siap karena belum bisa memasak. Sebenarnya
bukan tidak bisa sama sekali. Aku bisa kok masak. Contohnya masak telur dadar –
yang sering gosong, masak nasi -tapi pakai rice cooker (Oke. Skip)
Lalu, kenapa aku ‘nekat’ untuk tetap menikah padahal
memasak saja belum bisa?
Jawabannya adalah keyakinan. Aku yakin aku akan bisa
memasak. Dan aku akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk suami dan
anak-anakku nanti.
Mungkin bukan hanya aku saja yang menyebut ‘memasak’
adalah sebuah tantangan di awal pernikahan. Pun untuk para gadis diluar sana
mungkin masih khawatir saat menikah dan belum juga bisa memasak.
Lalu pertanyaanya, salahkah jika seorang istri belum bisa
memasak? Tenang. Itu bukanlah suatu kesalahan kok. Namun akan menjadi kesalahan
jika sang istri tidak berusaha untuk mencoba dan mempelajarinya. Nah loh, nah
lohhh.
Bisa memasak juga merupakan nilai tambah pada seorang
istri (selain juga dapat menghemat
pengeluaran. Betul kan bu ibuuu?). Bahkan pemuda-pemuda zaman now kerap
memasukkan ‘pandai memasak’ dalam daftar kriteria istri idaman. Gak salah sih,
asal bukan menjadi sebuah patokan. Sebab masih banyak yang lebih utama dari
keahlian memasak. Contohnya taat pada suami, dan selalu menjaga penampilan yang
baik di depan suami (ini juga keahlian penting lo saudari-saudari sekalian).
Memasak juga bisa menjadi perekat dalam rumah tangga.
Menjadi magnet yang membuat seluruh anggota keluarga selalu merindukan
rumahnya. Jadi yaa, kalau semua bisa
dipelajari, kenapa masih terbelenggu dengan kata ‘tidak bisa?’ Demi sang suami tercinta, apa sih yang nggak
bakal diusahain? Hihi
Dulu, kukira semua wanita yang menjadi ibu bisa memasak
yang enak. Tentu saja, karena biasanya hal pertama yang anak rantau rindukan saat
memikirkan rumah tentulah masakan ibunya (berdasarkan pengalaman pribadi. Hihi.
Anak rantau mana suaranyaa?)
Namun ternyata pastilah ada proses menuju tahap agar masakan
menjadi selalu enak. Bahkan Bunda mertuaku yang sangat jago masak bilang, kalau
saat awal menikah dulu beliau juga belum mahir memasak. Yes! Disitu langsung
optimis bahwa suatu saat aku juga bisa masak seenak masakan Mama dan Bunda.
Menjadi menantu dari mertua yang jago masak itu, menjadi
sebuah tantangan juga loh. Karena sang anak yang sudah terbiasa makan enak dari
sang Ibunda. Maka tugasku pun berusaha memasak makanan yang enak juga. Awal
saat baru menikah, aku menanyakan pada Bunda apa makanan kesukaan Abang, dan
juga resep-resepnya. Oke. Aku siap untuk memasak.
Hari-hari pertama mencoba memasak memang menjadi hari-hari
yang cukup melelahkan. Bentar-bentar mesti telpon Mama atau Bunda mertua,
googling sana sini, dapur yang acakadul.
Sampai layar HP suka berminyak karena sambil menggoreng
tetep pegang HP untuk lihat google atau sambil nelpon. Duh, Rempong bener yaa.
Namun biarlah HP yang berminyak ini kelak menjadi
saksi perjuanganku memasak untukmu ya, Bang ..
Terkadang sambil menggoreng, atau mengaduk-aduk masakan,
aku berfikir ‘alangkah nikmatnya masakanku ini.. bumbunya diracik dengan do’a,
dan diaduk dengan cinta’. Hehe. Biarlah menghibur diri sendiri ditengah
kerempongan itu juga perlu untuk membuat fikiran tetap waras.
Dan.. kalian tau, apa bagian terbaik dari memasak? Yap.
Saat melihat suami melahap habis makanan yang kita masak dengan penuh susah
payah tadi. Ditambah...
“Enak banget, Dek..”
Atau,
“Abang tambah lagi makannya, Dek.”
Juga,
“Kapan-kapan masak ini lagi ya,”
Percayalah, kalimat-kalimat diatas sangat menyenangkan dan
bisa mengalahkan pujian ‘Adek cantik banget’. Sekejap saja, letih itu
bisa hilang dan melahirkan semangat baru untuk menyajikan yang lebih baik lagi.
Jadi, para suami, jangan lupa untuk memberi pujian untuk
istri yang telah memasak untukmu. Karena membuatnya bahagia juga bisa dengan
pujian yang cukup sederhana. Biarlah hidungnya mengembang saat mendengarnya. Ia
akan selalu mengingatnya saat sedang memasak keesokan harinya sambil
nyengir-nyengir bahagia.
Belum sampai setahun usia pernikahan kami, berat badan
Abang semakin naik. Hingga beberapa bulan setelah menikah, saat bertemu kerabat
dan kawan-kawannya 80% mengatakan bahwa Abang terlihat gemukan. (Yang 20% nya
mungkin hanya mengatakannya didalam hati hehehe)
Saat itu, aku merasa sukses menjadi istri. Karena katanya
badan lelaki yang ‘makmur’ setelah menikah adalah tanda bahagianya suami dan
suksesnya sang istri. Hehe, ini sebenarnya juga tidak sepenuhnya benar kok.
Bukan berarti yang tidak gemuk tidak bahagia ya. (sebelum diprotes sama Bu Ibu
yang suaminya tidak gemuk setelah menikah.)
Namun, kemudian juga agak merasa bersalah saat Abang
terus menerus dibilang gemuk. Maafkan pesona masakan Adek yang enak itu ya,
Bang. Abang gemuk atau kurus cinta ini tidak berkurang kok. Hehe. Tapi ya syukurnya laki-laki itu tidak
sesensitif wanita kalau dikatakan ‘gemuk’. (Jangan sekali pun coba kata ini
pada wanita. Jangan! )
Sebenarnya aku juga tidak terlalu percaya saat
orang-orang bilang suamiku bertambah ‘makmur’ setelah menikah. Sampai saat aku
melihat foto dan video Abang saat masih bujangan. Zaman-zamannya Abang padat jam kuliah dan
kurang asupan nutrisi ala anak kos.
“Ya Allah, ini Abang? Kok kurus bangett, jadi sedih
lihatnya,” Dari situ percaya dan bersyukur kini ia memiliki istri yang akan
slalu memperhatikan makan dan istirahatnya. Ya. Itu aku.
Gagal dalam memasak? Tentu saja pernah. Saat masakanku
terlalu asin atau sambalku terlalu pedas untuk Abang yang tidak tahan pedas. Namun
alhamdulillah, ia tetap melahap makanannya dan tidak langsung menyalahkanku.
“Dilema Abang nih. Makanannya pedes tapi enak, Dek. Sayang
banget gak dihabisin,”
Itu contoh kalimatnya saat menyindir makananku yang masih
belum sempurna. Hihi. Agak sedih karena belum sempurna, tapi toh, tidak semua
masakan pada awalnya harus sempurna kan? Kesalahan juga bisa menjadi pelajaran
bagi kita agar tidak mengulanginya lagi. Oh, kalau gitu berarti besok cabe
rawitnya dikurangin, atau besok tambahin garamnya sedikit-sedikit saja
dulu.
Dan poin pentingnya adalah, jangan pernah menyerah untuk
mencoba. Anak-anak kita nantinya berhak mempunyai seorang Ibu yang pandai
memasak. Bukankah menyenangkan suatu hari saat anak kita yang di rantau berkata
di ujung telepon, “Ummi, aku rindu dendeng batokok buatan Ummi,”
“Iya, nak. Besok Ummi kirimkan ya,” (Menghayal mode on ,
hehe)
Selamat berjuang di dapur wahai para Istri. Semoga Allah
memudahkan dan memberi balasan terbaik untuk para istri diluar sana yang masih
berjuang demi menyenangkan suaminya. Aamiin.
Oleh: Aulia Dwi Safitri

0 komentar:
Posting Komentar