Amanah Itu Bernama Khalid Al-Amiry (Kisah Persalinan)




Mari kembali ke peristiwa bersejarah 4 bulan lalu. Saat-saat paling menegangkan, diambang-ambang antara hidup dan mati. Demi lahirnya satu nyawa ke dunia ini, yang sekarang sudah berusia 4 bulan. Dengan banyak tingkahnya yang gemesin. Masya Allah.

Sebelumnya, aku mau bilang, kalau kisah persalinan setiap wanita itu unik dan berbeda. Ada yang cepat, ada yang lama. Ada yang melalui proses normal, ada yang melalu cesar. Tapi, bagaimanapun prosesnya, semuanya tetaplah perjuangan yang memiliki kisahnya sendiri.

Dan, inilah Kisahku.. 

Amanah Terindah (Awal Kehamilan)




Sekarang aku percaya bahwa cinta itu buta. Belum melihatnya saja aku sudah dibuatnya jatuh cinta…

Kita, Dua Hati yang Tersembunyi dalam Diam


Karena kita, adalah dua rasa yang belum terikat. Maka izinkan aku tetap menikmati rasa ini dalam diam.

Di ujung jalan itu, kita bertautan. Dua wajah anak manusia tertunduk bisu. Dengan merahnya yang bersemu, persis seperti senja yang merona saat itu. Keduanya tak dapat mengelak akan getaran kalbu yang menyibak sukma. Namun, mereka tetap berjalan tunduk dalam diam.

Tantangan Awal Pernikahan : Memasak



Karena bahagia itu sederhana. Sesederhana saat menyajikan semangkuk cinta untuk mereka yang engkau cinta....

Dari awal saat ditawari untuk menikah, hal pertama yang kufikirkan adalah aku merasa belum siap karena belum bisa memasak. Sebenarnya bukan tidak bisa sama sekali. Aku bisa kok masak. Contohnya masak telur dadar – yang sering gosong, masak nasi -tapi pakai rice cooker (Oke. Skip)

Lalu, kenapa aku ‘nekat’ untuk tetap menikah padahal memasak saja belum bisa?
Jawabannya adalah keyakinan. Aku yakin aku akan bisa memasak. Dan aku akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk suami dan anak-anakku nanti.

Pembuktian Cinta #2



Karena berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskan tanggal pernikahan pada tanggal 8 Februari 2017. Sekitar 6 bulan jarak antara lamaran dan pernikahan kami. Cukup jauh memang. Sehingga acapkali memberi ruang keraguan dalam hatiku.

Bukan. Aku tak meragukan kesungguhannya. Aku malah kadang meragukan diriku sendiri yang masih penuh kekurangan ini. Sudah siapkah aku menjadi istri? Sudah mampukah? Apakah aku bisa menjadi istri yang baik?

Memang benar yang katanya menuju hari H emang banyak godaannya ya.

Awal dari Sebuah Kisah #1


“Jika datang seseorang padamu secara tiba-tiba, padahal dia tidak pernah chatting, menggodamu, atau mendekatimu, sesungguhnya ia telah bersiap-siap dan bersungguh-sungguh untuk menjadi imammu sejak jauh-jauh hari.”

- Sungguh, dia telah menjaga imannya, agar kelak mengemban tugas untuk bisa menjaga dirimu. (choqi-isyraqi)

Aku mengenalnya sejak kami masih kecil. Kami satu sekolah saat SD di suatu daerah di Palembang. Meski tidak sekelas, karena ia lebih tua 3 tahun dariku. Kedua orangtua kami juga sudah lama dekat. Namun saat itu tidak sekalipun aku pernah berfikir bahwa beberapa tahun mendatang ia lah yang akan menjadi pendamping hidupku.

Setelah tamat SD, kami berdua melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren. Ia menamatkan pendidikan SMA nya di Ponpes Imam Bukhari Solo sedangkan aku yang sudah pindah ke Riau menamatkan pendidikanku di Ponpes Ummu Sulaim Pekanbaru.

Kepergian




 “Lia, bawa kain panjang kesini ya. Om Rifki udah ga ada lagi,” kata mama di ujung telepon tadi malam.

إنا لله و إنا إليه راجعون

Masih belum percaya kalau beliau sudah tiada.