Menjadi Seorang Guru SMP


Menjadi seorang guru SMP itu…

Kau harus mempunyai stok ‘sabar’ berlusin-lusin. Oh tidak. Beratus kali lipat lusin. Sebab tingkah dan kelakuan mereka akan kerap membuatmu pusing dan slalu mengelus dada. Saat nasihat dan perintahmu dianggap angin lalu, ‘sabar’. Atau saat hal yg berkali-kali engkau larang tetap saja mereka lakukan, kuncinya slalu sama, ‘sabar’.

Menjadi seorang guru SMP itu…

Kau harus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan murid-murid yang kritis dengan baik, juga beberapa yang kepo.

    “Ustadzah, BId’ah itu apa Ustadzah?”

    “BId’ah itu mebuat perkara baru yang tidak ada contohnya dari Rasulullah,”

    “Ustadzah, kapan Aisyah menikah dengan Rasulullah?”

    “Ada pendapat yang mengatakan pada saat Aisyah berumur 6 atau 7 tahun,”

    “Ustadzah kapan nikah?”

    “Waaah, cuacanya cerah, ya!

    Eh, nanya apa tadi?” :D

Menjadi seorang guru SMP itu…

Kau juga bisa jadi sahabat dan kakak bagi mereka. Ya, tentu saja dgn umur yang tak berbeda jauh, tak sulit untuk berbaur dgn mereka. Menjadi tempat curhat siswi-siswi yang sedang dlm masa puber nya, ikut bermain dokter-dokteran atau ibu peri dgn memakai topi dari koran dan tongkat dgn pita warna-warni.
Tahukah, itu menyenangkan. Sungguh.
Seperti kembali mengulang masa kecil yang masih berbungkus kepolosan dan keceriaan.

Menjadi seorang guru SMP itu…

Kau juga akan kerap mnggeleng kepala, atau tertawa lepas, saat melihat tingkah laku konyol dan polos mereka.

    “Ustadzah, nunggu di halte dalam aja yuk sama kami,” kata 2 orang siswa kelas 1 saat aku sedang menunggu jemputan di halte luar pos sepulang sekolah.

    “Ustadzah biasa nunggu sini kok. Di halte dalam jauh jalannya, panas lagi,” jawabku.

    “Ustadzah, ikut kami aja… kalau disini nanti ustadzah diganggu!”Pinta mereka dgn suara lantang. Aku terbahak.

    “Ga ada yg ganggu ustadzah, tenang aja,”

    “Tengoklah, abang-abang itu dari tadi ngelihatin ustadzah terus,” katanya dgn suara yang cukup keras sambil menunjuk ke arah kumpulan laki-laki yang tak jauh dari tempatku. Sontak ibu-ibu dan bapak-bapak yang ada disana tertawa geli melihat ocehan polos muridku.

    “Ssstt.. ga boleh nunjuk-nunjuk gitu, ga sopan,“ kataku sambil melotot. Memberi isyarat pada mereka untuk diam.

    “Tapi bener ustadzah.. ih.. ustadzah ini ga percaya kali,” sinyal untuk diam tadi rupanya tidak sampai kepada mereka.

    Lucu, memang kalau mengingatnya, diiringi rasa malu saat mereka berbicara lantang seperti itu di hadapan banyak orang. Tapi, yah niat mereka benar baik. Naluri untuk melindungi Ustadzahnya, meski dgn cara yang terlampau polos.

Menjadi seorang guru SMP…

Tak dapat di pungkiri, mau tidak mau kau bisa saja masuk dalam dunia merah muda di masa pubertas mereka. Saat rasa sayang atau perhatianmu pada mereka yang bisa mereka salah artikan. Saat itulah engkau dituntut agar bisa bersikap bijak dan profesional. Bagaimana caranya menolak tanpa menyakiti, bagaimana caranya memberi jarak tanpa pilih kasih dan diskriminasi. Sebab bagaimanapun, ia tetap muridmu. Sama seperti murid lainnya, yang di beri amanah orang tuanya untuk diajari dan di didik untuk menjadi pribadi yang berilmu lagi takwa.

Dan telah berlalu satu tahun masa pengabdian mengajar dan mendidik mereka. Murid-murid pertama ku, menjadi sebuah pengalaman yang sangat luar biasa berarti.

Dan terakhir,

Menjadi seorang guru SMP…

kini engkau harus kuat tuk menahan rindu yang menyapa, saat kenangan demi kenangan bersama mereka penuh sesak dalam memori. Sebab sebuah rindu yang belum berujung temu, sebaiknya di ungkapkan, ntah pada goresan kata, atau pada rumput yang bergoyang, aku pilih yang pertama of course.

Percayalah, bagaimanapun menjengkelkannya kelakuan mereka, hadirkanlah gambaran bahwa salah satu dari mereka kelak akan menarik tanganmu menuju surga-Nya..
Aamiin, Aamiin Ya Robbal ‘Alamin…

Semoga semua guru di setiap sudut bumi selalu diberi kemudahan dan senantiasa dilimpahkan kesabaran.

- mencoba tuk merapikan kenangan 1 tahun di SMP Plus Al Ibanah.
Pangkalan Kerinci, Riau

Oleh: Aulia Dwi Safitri

2 komentar: