Sekarang aku
percaya bahwa cinta itu buta. Belum melihatnya saja aku sudah dibuatnya jatuh
cinta…
Tulisan ini ditulis
saat si Khalid bayiku sudah berusia 2 bulan. Hihi. Sekalian mengingat
momen-momen indah saat hamil dan melahirkan. Aku doakan bagi kawan-kawan yang
masih dalam penantian momongan agar segera diberikan momongan. *Tiba-tiba ada
suara “Yang masih jomblo gak didoain?” Iyaaaa.. semoga kawan-kawan yang
sedang penantian jodoh agar mendapattt rezki yang berlimpah, senatiasa dalam kesehatan,
umur yang berkah, rumah yang indah, dan .. “jodohnya manaa?!” *mulai
kesal. Dan… segera dipertemukan dengan JODOH yang shalih/shalihah. Haha.
Seneng banget sih Lii ngisengin jomblo.
Ampunn..
Oke. Kita mulai
yaa…
Dari awal pernikahan,
kami memang tidak berniat menunda momongan. Malah kalau bisa, semakin cepat
semakin bagus. Hehe. Ingin rasanya segera merasakan hamil,, melahirkan, dan
menimang anak.
Sebelum hamil, aku
sempat 2 kali haid. Dua kali mencoba test pack dengan hasil garis satu,
negatif. Padahal yang terakhir sudah telat seminggu. It’s okay. Allah tau kapan
waktu terbaik saat hambaNya benar-benar siap menerima amanahNya. (Padahal
aslinya sedih lihat hasil 1 garis ituuuh)
Bulan April 2017,
saat itu aku dan Abang baru pulang dari Singapura, memenuhi undangan mengisi
kajian disana. Di jalan pulang dalam mobil travel, aku merasa mual dan pusing.
Padahal seumur-umur, ga pernah ngerasain mual saat perjalanan. Ah, mungkin
ini karena capek, pikirku. Sesampainya di rumah jam 2 malam, iseng-iseng
aku bilang ke Abang. “Adek udah telat 2 hari loo,”. Dengan semangat Abang
jawab, “Besok kita test pack ya,” Haha.. padahal baru telat 2 hari. Tapi demi memuaskan hati Abang, aku coba test pack juga pagi harinya.
Bismillah…
Dan hasilnya .. 2
garis. Jelas. POSITIF!!
Tanganku bergetar
saat melihat hasilnya. Ini beneran aku hamil? Masya Allah. Alhamdulillah.
Tabarokallah. Aku sontak memanggil Abang dan mengabarkannya dengan penuh sukacita.
Kalimat syukur tak henti-hentinya kami ucapkan. Kamipun segera mengabarkan
Mama, Papa, Bunda, dan Bapak. Alhamdulillah semua menyambut kabar itu dengan
gembira.
Aku mengingat-ingat
apa yang kurasakan belakangan ini. Parut kram saat bangun tidur, lalu saat
diajak jalan-jalan oleh jama’ah di Singapura, beberapa kali aku mencari tempat
duduk karena kelelahan. Ya, gampang capek. Rupanya ada makhluk kecil yang
sedang tumbuh di rahimku saat itu. Masya Allah. Tabarokarrahman.
Awal Kehamilan
Alhamdulilah, di
awal kehamilanku tidak begitu berat seperti yang aku bayangkan. Malah, saat usia kandungan
2 bulan aku tetep ngeh ikut Abang kajian di Cilacap (12 jam perjalanan
naik kereta), Malang (5 jam perjalanan naik mobil), dan Surabaya (6 jam
perjalanan naik mobil). Capek sudah pasti. Tapi dariada ditinggal sendirian di
rumah lebih baik ikutan. Hehe. Dan saat kehamilan 3 bulan, kami ke Solo 10 jam perjalanan naik bis mengunjungi saudara kami disana.
Untuk perjalanan pesawat selama hamil lumayan sering juga. Saat hamil 5 bulan, aku, Abang dan Bang Ibnu (Abang kandungku) pergi ke Malaysia untuk jalan-jalan sekalian Abang mengisi kajian disana (menikmati tiket promo saat itu hihi). Lalu ke Medan menghadiri walimah saudari kami. Perjalanan terakhirku saat hamil adalah usia 7 bulan kami ke Jakarta memenuhi undangan mengisi di salah satu acara stasiun televisi. Hehe. Khalid, Ummi mu ini lasak juga saat hamil :D
Untuk perjalanan pesawat selama hamil lumayan sering juga. Saat hamil 5 bulan, aku, Abang dan Bang Ibnu (Abang kandungku) pergi ke Malaysia untuk jalan-jalan sekalian Abang mengisi kajian disana (menikmati tiket promo saat itu hihi). Lalu ke Medan menghadiri walimah saudari kami. Perjalanan terakhirku saat hamil adalah usia 7 bulan kami ke Jakarta memenuhi undangan mengisi di salah satu acara stasiun televisi. Hehe. Khalid, Ummi mu ini lasak juga saat hamil :D
Tidak ada morning
sickness, hanya sekedar mual. Terutama mual saat mencium bau masakan (Walhasil
jarang banget masak di awal hamil. Hehe), mual saat mencium aroma tubuh Abang
(haha. Yang ini aneh banget, tapi benar adanya. Paling ga suka deket-deket
Abang. Sewangi apapun Abang, tetep mual kalau dideketin. Hihii.) Tapi
alhamdulillah mualnya tidak sampai muntah-muntah setiap hari. Tetep bugar.
Semua makanan enak di lidah dan masuk di perut. Alhamdulillah.. pinternya anak
Ummi di dalem ini. Mau dibeliin apa nanti? Sepatu? Sepeda? *Sambil
elus perut.
Ngidam. Awal
kehamilan aku sempat ingin makanan tertentu. Entahlah. Entah memang bawaan
hamil atau emang lagi kepengen aja. Tapi rasanya emang beda. Pengennya itu
pengen banget. Pakek banget dua kali. Alhamdulilah, the power of hamil, semua
orang mendukung, dan menuruti apa yang kumau. (Ini nih bagian enaknya hamil
hehe). Pengen rendang buatan Mama, langsung dipaketin. Dikirim dari Riau ke
Jember. Pengen pempek kapal selam nya Bunda mertua. Besoknya langsung dimasak,
lalu dikirim dari Palembang Ke Jember. Senangnyaaa… Terimakasih Mama dan Bunda.
Lalu ada juga
daftar makanan-makanan yang sangat sangat ingin aku makan, tapi gak ada di
Jember. Walhasil terpaksa ditunda sampai pulang kampung nanti. Aku sampai
membuat semua daftar makanannya agar tidak lupa. Haha.
![]() |
| Sisa satu dong yang belum. :) |
Tapi tidak semua
yang kuinginkan saat itu bisa dipenuhi. Aku pengen banget waktu itu cilok
pinggir jalan depan komplek rumah. Tapi sama Abang gak boleh ☹. Karena kurang
terjamin kebersihannya. Juga Abang pernah diare gara-gara beli cilok disana.
Huhu padahal enak banget dan ramai yang beli lohh. Aku ga nyerah. Tetep bujuk
Abang dengan senjata ampuh wanita. Nangis. Tapi, tetep saja… Tidak boleh. Ya
sudahlah. Untuk kebaikanku dan dedek bayi yang di perut juga, aku pun mengalah.
‘Cilok, kamu enak. Tapi aku ga bisa
memilikimu. Jangan tunggu sore. Ga bakal.’ -Aulia 2018
Aku termasuk orang
yang kurang suka makan sayur. Dan lebih memilih buah-buahan sebagai gantinya.
Kalau lagi rajin-rajinnya, aku bikin jus buah. Pernah kejadian lucu di malam
hari. Lagi semangat-semangatnya mau bikin jus. Kebetulan ada beberapa buah apel
di kulkas. Cuss ke dapur. Potong-potong apel. Kupas satu per satu sambil
membatin, anakku pasti sehat banget nanti kalau aku minum ini. Setelah
itu ku blender -karena tidak punya juicer, jadi aku pakai blender lalu disaring
sambil dibenyek-benyekin (apa sih bahasa bagusnya?) ampasnya. Siap. Tinggal
minum. Lalu, disitulah awal tragedi terjadi.
Tak sengaja, aku
menyenggol gelas besar berisi penuh jus apel yang sudah kubuat dengan sepenuh
hati jiwa, raga, dan tenaga itu saat membereskan dapur (Cerobohnyaaaa daku >.< ). Yang kulihat kini di lantai
adalah jus apel tumpah tak tersisa. Aku pun ikut terduduk di lantai. Lalu
nangis. Wkwk iya. Liatin jus tumpah sambal nangis mewek. Abang yang datang melihatku
malah tertawa lepas. Uhh. Lalu ia yang membersihkan tumpahan jus apel itu. Lalu
keluar rumah buat beliin jus apel yang baru. Karena stok apel di kulkas juga
sudah habis. Padahal saat itu ia mesti belajar buat ujian di kampus besok.
Jazakumullahu Khairan suamiku. Hehe. Wanitamu ini sedang kumat menjanya. Akhirnya tragedi ini berakhir ‘Happy Ending’.
Alhamdulillah, masa
kehamilanku berjalan baik-baik saja. Hingga pada usia kehamilan 5 bulan, aku
terkena batuk dan pilek lumayan parah. Sudah seminggu lebih tidak kunjung
sembuh dan malah makin menjadi. Setiap aku selesai makan, lalu batuk parah,
makanan itu termuntahkan kembali bersama keluarnya lendir. Nafasku juga semakin
sesak. Pernah aku terjaga semalaman karena sesak nafas dan ga bisa tidur. Abang
mengelus dada dan punggung sambal membacakan doa.
Puncaknya, keesokan
hari sesak nafasku tak tertahankan. Lemas. Karena semalaman tidak tidur dan
perut kosong karena setiap terisi termuntahkan kembali. Yang kufikirkan saat
itu adalah keadaan bayiku yang didalam ini. Semoga ia baik-baik saja. Aku
dibawa ke klinik. Lalu dipasang infus. Kesalnya 2 perawat yang ingin menusuk
nadiku saat memasukkan infus sempat salah menusukkan jarum 2 kali. Lalu malah bisik-bisik
berdiskusi dan sedikit panik. Kelihatannya mereka belum terlalu berpengalaman.
Namun, karena sudah lemah, aku pasrah saja tanganku dijadikan percobaan mereka.
Sambil mengingat-ingat wajah mereka. Siapa tahu kalau sudah sembuh bisa membalasnya.
Hehe. Becanda.
Dari klinik, aku
dirujuk ke UGD di rumah sakit. Itulah pertama kalinya aku masuk UGD (dan
sebenernya, pertama kali diinfus juga). Aku diberi oksigen, dan segera di rujuk
ke dokter spesialis kandungan untuk memastikan kandunganku baik-baik saja.
Alhamdulillah, semuanya baik. Anakku kuat. Dari situ aku terharu dan
mendapat suntikan semangat. Anakku saja kuat. Maka aku harus lebih kuat dan
segera sembuh. Malam itu aku rawat inap di rumah sakit. Nafasku sudah agak lega
setelah dibantu dengan oksigen walau masih terasa sesak. Malam itu aku tertidur
lelap. Dan pagi harinya terbangun dengan senang. Karena akhirnya bisa juga
tidur Hihi. Makan pun perlahan sudah mulai tidak lagi dimuntahkan.
Alhamdulillah, aku bisa kembali memberi nutrisi untuk calon bayiku. Aku pun
diperbolehkan pulang oleh dokter hari itu dengan syarat untuk rutin meminum
obatnya.
Alhamdulillah,
semoga kita semua selalu diberikan kesehatan dan tak lupa bersyukur atas nikmat
yang Allah berikan. Nikmat sehat, nikmat tidur nyenyak, nikmat bernafas dengan
lega yang sering lupa untuk ku syukuri rupanya sangat aku rindukan saat sakit.
Marilah kita selalu bersyukur. Jangan sampai saat nikmat itu dicabut baru kita
tersadar dan menyesalinya.
Selalu jaga kesehatan
ya teman-teman..
Insya Allah tulisan
akan bersambung membahas tentang kisah persalinanku. Ditunggu yaa…
Oleh : Aulia Dwi
Safitri


Assalamu'alaykum..perkenalkan nama aku Icha, domisili Tangerang.. Maa syaa Allah, lia, dirimu pandai membawa suasana hati pembaca.. Disaat tegang ikut tegang, disaat baper, ikut baper,Btw kita seumuran, sama-sama 97, salam kenal yah,aku udah baca semua.. ditunggu post selanjutnya 🌹
BalasHapusWaalaikumsalam warahmatullah.. wah terimakasih icha.. Salam kenal juga :)
BalasHapuskk gk nahan baca yg siomay depan ibanah wkwkw
BalasHapusHahaha udah pernah coba belum? Enak lohhh.. 😄
Hapus