Amanah Itu Bernama Khalid Al-Amiry (Kisah Persalinan)




Mari kembali ke peristiwa bersejarah 4 bulan lalu. Saat-saat paling menegangkan, diambang-ambang antara hidup dan mati. Demi lahirnya satu nyawa ke dunia ini, yang sekarang sudah berusia 4 bulan. Dengan banyak tingkahnya yang gemesin. Masya Allah.

Sebelumnya, aku mau bilang, kalau kisah persalinan setiap wanita itu unik dan berbeda. Ada yang cepat, ada yang lama. Ada yang melalui proses normal, ada yang melalu cesar. Tapi, bagaimanapun prosesnya, semuanya tetaplah perjuangan yang memiliki kisahnya sendiri.

Dan, inilah Kisahku.. 

29 November 2017 – Kontrol bulanan (9 bulan)

Akhirnya, tiba juga di bulan ke sembilan. Perut sudah membesar. Jalan pagi sudah ngos-ngosan. Bolak-balik ke kamar mandi buat BAK (Karena semakin besar, bayi menekan kandung kemih Ibu, dan menyebabkan sering BAK). Tiap malam sebelum tidur, mungkin 5 menit sekali bolak balik ke kamar mandi. 

Tapi, yang paling membuat bahagia, adalah fakta bahwa sebentar lagi aku akan bertemu dengan makhluk mungil yang selama ini menendang-nendang di perut. Yey.

Kontrol tiap bulan pun, menjadi hal yang sangat kutunggu-tunggu. Karena bisa melepas rindu dengan melihat gambarnya di USG dan mendengar detak jantungnya. Rasanya ituuu seperti saat LDR dengan kekasih, dan ini lah saat video call dengannya. Haha.

“Alhamdulillah semua masih normal. Cuma berat badannya sudah 3 kilo. Ini kalau tetep gini terus bisa-bisa sampai HPL jadi 4 kg,” Kata dokter sambil menunjukkan grafik berat badan Khalid yang sangat tinggi sampai berwarna merah. Fyi, HPL (Hari Perkiraan Lahir) ku tanggal 27 Desember (usia kandungan 40 minggu). Dan sekarang usia kandunganku 36 minggu. HPL itu hanya perkiraan, normalnya bisa maju 2 minggu, atau lebih lama 2 minggu. Aku berharap Khalid bisa lahir lebih cepat dari HPL, agar bb nya ga bobol ke 4 kg.

Aku khawatir mendengar penjelasan dokter. Sebenarnya sudah dari 8 bulan, dokter bilang kalau aku harus diet. Karena berat badan janin yang gede. Kalau badan Ummi nya sih segitu-segitu aja (Ga mau dibilang gendut 😜). Diet disni maksudnya diet makanan yang banyak mengandung kalori, yang manis-manis. Huaaa itu kan favoritku. Apalagi saat hamil ini, porsi makan itu bisa menjadi 2 kali lipat. Namun, demi bisa melahirkan normal dan lancar, aku mati-matian menjaga pola makan (Walau kadang khilaf 😬). Sambil berharap Khalid segera keluar. Gede nya waktu diluar perut aja yuk dek.

7 Desember 2017 (37 w – 9 bulan 7 hari)
Pukul 08 : 00

Pagi, setelah jalan pagi dengan Abang, aku melihat bercak darah sehabis BAK. Yey. Ini waktunya. Salah satu tanda menjelang persalinan. Tak lama lagi kita bertemu, dek!

Netizen be layk “Li, ga takut apa mau lahiran? Kok bawaannya seneng aja?”
Takutlah, cuma rasa pengen segera bertemu Khalid itu lebih besar. Atau, mungkin karena aku belum tau aja rasa sakitnya gimana. Jadi girang-girang aja wkwk.

Bersama Abang, kami segera cek ke praktek dr. Didik, dokter kandungan langgananku, penyabar dan alhamdulillah sudah kenal sunnah. Pokoknya fix mau lahiran di tempat dr. Didik. Tapi rupanya, saat itu dokternya lagi keluar kota smpai beberapa hari kedepan. Huhu. Kenapa disaat seperti ini si dok?😭. Sempat galau mau kemana, tapi akhirnya pilihan tetap di tempat praktek dr. didik. Karena, disana banyak bidan yang stand by 24 jam. Bismillah. Walau ga sama dr. didik, sama bidannya jadilah.

Disana, aku cek pembukaan. Rupanya sudah bukaan 2. Tapi masih disuruh pulang dulu sama bidannya. Karena anak pertama biasanya memang agak lama menuju bukaan 10.

Saat itu, aku belum ngerasain kontraksi. Masih adem ayem. Malah, lanjut lagi jalan keliling kompleks rumah, biar pembukaan makin cepat.

Pukul 15 : 30 – Ketuban rembes

Aku kaget saat bangun dari tidur siang, celanaku basah seperti orang ngompol, bercampur bercak darah. Aku kira itu pecah ketuban. Aku langsung memberitahu Abang dan kedua orangtua. Dan segera bersiap untuk ke bidan. Sambil membawa tas perlengkapan  bayi dan Ibu yang sudah kusiapkan dari seminggu yang  lalu. Kontraksi masih jarang.

Pukul 17 : 00 – Bukaan 5

Sesampainya di bidan, aku langsung di cek pembukaan, dan ternyata sudah bukaan 5. Alhamdulillah, sudah setengah perjalanan dari 10 tahap pembukaan. Tapi kok aku belum ngerasa sakit ya? Karena ku bilang pada bidan tadi pecah ketuban, maka aku disuruh baring dan ga boleh jalan-jalan. Perutku di pasang alat untuk mendeteksi detak jantungnya Khalid. (Huhu. Padahal rupanya saat itu belum pecah ketuban, tapi masih rembes. Aku nya sok tau bilang pecah ketuban.)

Pukul 20 : 00 – Bukaan 6

Sudah bukaan 6. Dan aku mulai merasa mules. Tapi, masih bisa kutahan. Sambil terus mempraktekkan teknik hypnobrtithing yang sering kubaca. Bahkan masih bisa bercanda dengan Abang dan bidan-bidan. Sampai bidannya bilang “Kakak ini udah bukaan 6  kok masih ketawa-ketawa aja ya. Ibu-Ibu lain udah teriak-teriak biasanya,”
Waktu itu juga aku masih sempat ngobrol dengan teman-teman di grup whatsapp. Dan mereka juga kaget kok masih sempet-sempetnya pegang HP. Sebenernya saat itu aku juga heran, kenapa aku belum ngerasa sakit luar biasa sampai teriak-teriak yang seperti di sinetron itu ya.

Dengan belagunya aku membatin, jadi gini sakitnya mau melahirkan ya. Kalau gini mah, aku sih kuat.

Namun lalu aku menyesal atas dugaanku yg 'sok-sok' itu, karena beberapa saat setelah itu, aku pun merasakan bagaimana puncak rasa sakit itu.

Pukul 22 : 00 – Bukaan 7, puncak rasa sakit.

Saat itu, entah bagaimana rasanya menuliskan rasa sakit. Kontraksi sudah mulai sering. Setiap 5 menit sekali. Seperti tulang-tulang ini diremukkan, dan perutku di remas-remas kuat. Tangan Abang lah korbannya. Tiap kontraksi muncul aku meremas tangannya kuat, rasanya seperti aku ingin abang juga ikut ngerasa sakit (hehe jahad). Sungguh, Belum pernah aku merasa sesakit ini.

Makin lama, kontraksi makin sering yang tadinya 5 menit sekali menjadi 3 atau 2 menit. Bayangkan saja, menahan rasa sakit itu seperti tanpa jeda. Bertubi-tubi tanpa memberiku ruang untuk isirahat sebentar saja. Bahkan untuk bernafas semakin sulit, hingga aku dipasangkan oksigen. Saat seperti itu, Abang sempat menyuapiku buah kurma untuk manambah tenagaku, sambil menceritakan padaku tentang kisah persalinan Maryam yang terdapat dalam surat maryam, yang juga merasakan sakitnya saat melahirkan. Semua wanita merasakan ini. Dalam fikiranku, hebat betul ibu-ibu yang melahirkan beberapa kali, rasanya aku sekali saja sudah mau kapok. Huhuu. 

Pukul 23 : 30 – Hampir putus asa

Pembukaan masih stuck di 8. Dan aku sudah lemas, gak kuat lagi manahan rasa sakit yang terus menerus. Khalid, ayo keluar sayaang…
Abang, mama dan para bidan terus menyemangatiku. Saat itu yang kurasakan adalah rasa sakit luar biasa ditambah rasa kantuk luar biasa. Tapi gak dibolehin tidur, karena berbahaya untuk bayi kalau tidur disaat seperti ini. Tapi rasanya bener ngantuuuuk banget. Abang yang cepat-cepat menegurku saat mataku terpejam lama.

Aku sempat mendengar bidan berkata, “Kita tunggu sampai jam 1 ya..” entah maksudnya apa. Kalau lebih dari jam 1 kenapa? Apa yang mau dilakukan? Aku mau diapain? Namun, aku sudah terlalu lemah untuk bertanya.

Pukul 01 : 00 – Mengejan!

Saat itu, bidan sudah memperbolehkanku mengejan, dengan syarat hanya saat aku merasa mules seperti ingin BAB. Bidan juga menegaskan untuk mengejan dengan mata terbuka, dagu ditempel ke dada. Dan yang paling penting, jangan mengangkat bokong untuk menghindari robekan vagina yang luas. Baiklah, aku juga sudah mempelajarinya. Ok, Ini saatnya.

Namun kenyataanya, teori tak sebanding dengan praktek di lapangan. Aku benar-benar ga bisa mengejan. Entah sudah berapa kali mengejan, tapi tetap gak keluar-keluar. Malah beberapa kali disuruh istirahat lagi.

Sampai..
 PLOK! Pecah ketuban! 
(Iya, seriusan gitu loh suaranya, kayak balon pecah)
Loh? Ini pecah ketuban? Jadi yang tadi siang belum pecah ketuban rupanya. Haduh.. Tapi ga ada waktu lagi untuk bertanya-tanya. aku lebih fokus untuk mengejan. Seketika kantukku langsung hilang saat itu.

“Kak, ini kepalanya sudah nampak. Ayo semangat. Coba Bapak lihat sini, tuh kan rambutnya kelihatan,” Di saat genting itu, sempat-sempatnya aku bertanya, “Abang beneran lihat? Lebat gak rambutnya, Bang?” #GUBRAK.

Dan setelah berusaha sekuat tenaga, tedengarlah tangisan itu. Tangisan seorang bayi. Alhamdulilah, alhamdulillah. Mama masuk dan memelukku dengan berlinang air mata.
Rupanya mama keluar tadi karena gak tega lihat aku kesakitan.

Aku? Masih takjub setengah percaya. Itu beneran anakku? Yang selama ini di perut 9 bulan? Yang selama ini nendang-nendang di perutku? Tangisannya, keras sekali.  Masya Allah…

Dan aku baru sadar sekarang kenapa banyak ibu yang walaupun telah merasakan sakitnya melahirkan tetap ingin punya anak lagi. Ya. Karena ini. Karena tangisan ini. Karena bayi ini. Segala rasa sakit pun sirna seketika.

Selamat datang, Khalid Al-Amiry……

Khalid Al-Amiry

Lahir pada tanggal 8 Desember 2017

Pukul 01 : 50



Berat : 3,3 kg

Panjang : 49 cm

Semoga kehadirannya selalu membawa keberkahan, menjadi anak yang sholeh, berbakti pada orang tua, dan kelak bermanfaat bagi ummat dengan ilmunya. Aamiin. 

Kami yang berbahagia 
Aulia Dwi Safitri dan Muhammad Abdurrahman. 💗

Semoga pembaca yang sedang menunggu momongan juga segera di beri amanah .. AAMIIN 

Bagi yang mau baca kisah awal kehamilanku, klik Disini

2 komentar:

  1. Liat ig story lia, trus jadi penasaran.. Pas baca jadi ikut nostalgia.. Keinget waktu lahiran dulu.. Hehe
    Ditunggu selanjutnya lia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe masya Allah neng.. udah gede yaa dedek cantiknya neng .

      Hapus