Awal dari Sebuah Kisah #1


“Jika datang seseorang padamu secara tiba-tiba, padahal dia tidak pernah chatting, menggodamu, atau mendekatimu, sesungguhnya ia telah bersiap-siap dan bersungguh-sungguh untuk menjadi imammu sejak jauh-jauh hari.”

- Sungguh, dia telah menjaga imannya, agar kelak mengemban tugas untuk bisa menjaga dirimu. (choqi-isyraqi)

Aku mengenalnya sejak kami masih kecil. Kami satu sekolah saat SD di suatu daerah di Palembang. Meski tidak sekelas, karena ia lebih tua 3 tahun dariku. Kedua orangtua kami juga sudah lama dekat. Namun saat itu tidak sekalipun aku pernah berfikir bahwa beberapa tahun mendatang ia lah yang akan menjadi pendamping hidupku.

Setelah tamat SD, kami berdua melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren. Ia menamatkan pendidikan SMA nya di Ponpes Imam Bukhari Solo sedangkan aku yang sudah pindah ke Riau menamatkan pendidikanku di Ponpes Ummu Sulaim Pekanbaru.

Pacaran? Tidak. Kami tidak pernah pacaran atau saling komunikasi sebelumnya. Bahkan permintaan pertemanannya di FB pun tak pernah aku konformasi. Hehe.

Ia memiliki saudari kembar yang kebetulan juga akrab denganku. Kami lumayan sering berkirim pesan singkat.

“Gimana li? Udah siap ga? Kalau ada yg dateng ke rumah?”

Untuk yg kesekian kalinya, Ia kembali mengulang pertanyaannya. Entah kenapa akhir-akhir ini pembicaraannya sering mengarah kesana.

Aahh.. andai ‘datang’ yang ia maksudkan itu hanya sekedar minum teh dan berbincang tentang cuaca, diskon di Mall, atau cerita tentang ide masakan untuk takjil, mungkin aku tak perlu se-bingung dan se-kalut ini menjawabnya.

“Gimana nih? Kalo ada yg dateng trus disuruh ikut calon. Sudah siap?”
               
Apa ia benar-benar serius?

Lalu pada suatu hari di bulan Ramadhan 2016, Mama tiba-tiba mengabariku bahwa keluarganya akan datang ke rumah. Bukan kedatangan bertamu seperti  biasanya. Namun kedatangan yang ‘spesial’ ingin mengawali proses ta’aruf, yaitu nazhor.

Kaget? Tentu saja. Kami saat itu bahkan tak pernah berkomunikasi lagi sebelumnya. Dan sebenarnya aku masih bertanya-tanya apa yang membuatnya menjatuhkan pilihannya padaku. Seorang wanita biasa yang masih jauh dari kata sempurna.

Kalau boleh jujur, sebenarnya saat itu aku juga sedang memperhatikannya. Sekedar membaca blognya atau melihat video-video kajiannya. Ini ilmu. Itu alasanku yang sedikit dibuat-buat. Walaupun sebenarnya aku juga ingin tau kabar dan perkembangannya. Dan tak lama setelah itu mudah saja terbesit rasa kagum pada sosoknya. Dan kurasa saat itu wajar. Siapapun yang memperhatikannya juga akan merasa kagum, pikirku.

2 JULI 2016 – Di penghujung Ramadhan

Ia datang bersama keluarga besarnya. Karena sebanarnya keluarga kami juga sudah lumayan akrab, dan aku juga udah mengenalnya dari kecil jadi pertemuan keluarga ini seperti sebuah reuni bagi kami.

Aku dipanggil keluar oleh Papa dan didudukkan di kursi yang tak begitu jauh darinya. Tanganku sudah keringat dingin. Kepalaku tertunduk rasanya berat untuk diangkat.
Jadi begini rasanya nazhor, pikirku.

“Udah, am.. jangan lama-lama lihatnya,” Celetuk Mama lalu diikuti tertawaan anggota keluarga lainnya.

Aku tertawa kecil. Sekilas, kulihat ia juga ikut tertawa.

Khitbah??
               
Setelah selesai proses nazhor, Bapaknya mengutarakan bahwa sebenarnya kedatangan mereka bukan hanya sekedar nazhor. Namun ingin berlanjut ke tahap khitbah (lamaran).

Tentu saja kabar itu sangat membuat kami terkejut.

Jadi kita tanyakan dulu sama kedua anak kita. Iam gimana? Udah yakin hatinya setelah nazhor?” Tanya Bapaknya.

 “Yakin, Pak.”

“Langsung kita lamar Lia nya ya?”

“Iya. Biar gak keburu diambil orang,” Jawabnya ringan. Kami semua tertawa lagi. Proses yang sebenarnya menegangkan itu jadi terlihat ringan dengan canda tawa antar keluarga.

Alhamdulillah.

“Kalau lia bagaimana?”

Aku masih tertunduk. Diam. Papa dan Mama juga mengulang pertanyaan tadi. Aku hanya tersenyum. Masih diam. Dan saat itulah dianggap diamku sebagai pertanda setuju.

“Jadi mulai saat ini Iam dan Lia sudah saling terikat ya, harus sama-sama menjaga hati dan diri,”  tutup Bapak.
              
Dan dimulailah dari hari itu gelar single ku berubah menjadi  makhtubah (wanita yang sudah dipinang)

To be continued .... Klik untuk baca episode ke-2

"Sungguh indah saat cinta dibalut oleh kesucian. Dimulai dengan jalan yang Allah ridhoi seraya berharap agar perjalanan cinta ini selalu dalam ridho-Nya"

Oleh: Aulia Dwi Safitri

2 komentar: