“Jika datang seseorang padamu secara tiba-tiba,
padahal dia tidak pernah chatting, menggodamu, atau mendekatimu, sesungguhnya
ia telah bersiap-siap dan bersungguh-sungguh untuk menjadi imammu sejak
jauh-jauh hari.”
- Sungguh, dia telah menjaga imannya, agar kelak
mengemban tugas untuk bisa menjaga dirimu.
(choqi-isyraqi)
Aku mengenalnya
sejak kami masih kecil. Kami satu sekolah saat SD di suatu daerah di Palembang.
Meski tidak sekelas, karena ia lebih tua 3 tahun dariku. Kedua orangtua kami
juga sudah lama dekat. Namun saat itu tidak sekalipun aku pernah berfikir bahwa
beberapa tahun mendatang ia lah yang akan menjadi pendamping hidupku.
Setelah tamat SD,
kami berdua melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren. Ia menamatkan
pendidikan SMA nya di Ponpes Imam Bukhari Solo sedangkan aku yang sudah pindah
ke Riau menamatkan pendidikanku di Ponpes Ummu Sulaim Pekanbaru.
Pacaran? Tidak. Kami tidak pernah pacaran atau saling
komunikasi sebelumnya. Bahkan permintaan pertemanannya di FB pun tak pernah aku
konformasi. Hehe.
Ia memiliki saudari kembar yang kebetulan juga akrab
denganku. Kami lumayan sering berkirim pesan singkat.
“Gimana li? Udah siap ga? Kalau ada yg dateng ke rumah?”
Untuk yg kesekian
kalinya, Ia kembali mengulang pertanyaannya. Entah kenapa akhir-akhir ini
pembicaraannya sering mengarah kesana.
Aahh.. andai ‘datang’ yang ia maksudkan itu hanya sekedar
minum teh dan berbincang tentang cuaca, diskon di Mall, atau cerita tentang ide
masakan untuk takjil, mungkin aku tak perlu se-bingung dan se-kalut ini
menjawabnya.
“Gimana nih? Kalo
ada yg dateng trus disuruh ikut calon. Sudah siap?”
Apa ia benar-benar serius?
Lalu pada suatu hari di bulan Ramadhan 2016, Mama
tiba-tiba mengabariku bahwa keluarganya akan datang ke rumah. Bukan kedatangan
bertamu seperti biasanya. Namun
kedatangan yang ‘spesial’ ingin mengawali proses ta’aruf, yaitu nazhor.
Kaget? Tentu saja. Kami saat itu bahkan tak pernah
berkomunikasi lagi sebelumnya. Dan sebenarnya aku masih bertanya-tanya apa yang membuatnya
menjatuhkan pilihannya padaku. Seorang wanita biasa yang masih jauh dari kata
sempurna.
Kalau boleh jujur, sebenarnya saat itu aku juga sedang
memperhatikannya. Sekedar membaca blognya atau melihat video-video kajiannya.
Ini ilmu. Itu alasanku yang sedikit dibuat-buat. Walaupun sebenarnya aku juga
ingin tau kabar dan perkembangannya. Dan tak lama setelah itu mudah saja
terbesit rasa kagum pada sosoknya. Dan kurasa saat itu wajar. Siapapun yang memperhatikannya
juga akan merasa kagum, pikirku.
2 JULI 2016 – Di penghujung Ramadhan
Ia datang bersama keluarga besarnya. Karena sebanarnya
keluarga kami juga sudah lumayan akrab, dan aku juga udah mengenalnya dari
kecil jadi pertemuan keluarga ini seperti sebuah reuni bagi kami.
Aku dipanggil keluar oleh Papa dan didudukkan di kursi
yang tak begitu jauh darinya. Tanganku sudah keringat dingin. Kepalaku
tertunduk rasanya berat untuk diangkat.
Jadi begini rasanya nazhor, pikirku.
“Udah, am.. jangan lama-lama lihatnya,” Celetuk Mama lalu
diikuti tertawaan anggota keluarga lainnya.
Aku tertawa kecil. Sekilas, kulihat ia juga ikut tertawa.
Khitbah??
Setelah selesai proses nazhor, Bapaknya mengutarakan
bahwa sebenarnya kedatangan mereka bukan hanya sekedar nazhor. Namun ingin
berlanjut ke tahap khitbah (lamaran).
Tentu saja kabar itu sangat membuat kami terkejut.
“Jadi kita tanyakan dulu sama kedua anak kita. Iam
gimana? Udah yakin hatinya setelah nazhor?” Tanya Bapaknya.
“Yakin, Pak.”
“Langsung kita lamar Lia nya ya?”
“Iya. Biar gak keburu diambil orang,” Jawabnya ringan.
Kami semua tertawa lagi. Proses yang sebenarnya menegangkan itu jadi terlihat
ringan dengan canda tawa antar keluarga.
Alhamdulillah.
“Kalau lia bagaimana?”
Aku masih tertunduk. Diam. Papa dan Mama juga mengulang
pertanyaan tadi. Aku hanya tersenyum. Masih diam. Dan saat itulah dianggap
diamku sebagai pertanda setuju.
“Jadi mulai saat ini Iam dan Lia sudah saling terikat ya,
harus sama-sama menjaga hati dan diri,”
tutup Bapak.
Dan dimulailah dari hari itu gelar single ku berubah
menjadi makhtubah (wanita yang sudah
dipinang)
"Sungguh indah saat cinta dibalut oleh kesucian. Dimulai dengan jalan yang Allah ridhoi seraya berharap agar perjalanan cinta ini selalu dalam ridho-Nya"
Oleh: Aulia Dwi Safitri

Masyaallah ��
BalasHapusSemoga kita selalu diberi keistiqomahan ya ukh.. ��
Hapus