
Karena berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskan tanggal
pernikahan pada tanggal 8 Februari 2017. Sekitar 6 bulan jarak antara lamaran
dan pernikahan kami. Cukup jauh memang. Sehingga acapkali memberi ruang
keraguan dalam hatiku.
Bukan. Aku tak meragukan kesungguhannya. Aku malah
kadang meragukan diriku sendiri yang masih penuh kekurangan ini. Sudah siapkah
aku menjadi istri? Sudah mampukah? Apakah aku bisa menjadi istri yang baik?
Memang benar yang katanya menuju hari H emang banyak
godaannya ya.
Dan saat bisikan-bisikan itu datang aku cepat-cepat berdo’a
pada Allah. Bersimpuh, dan mengadukan semua resah padaNya. Berharap kelapangan
hati dan kelancaran atas segala proses ini.
Semangat, Lia! Jangan mematahkan
niat baik hanya karena keraguan.
Selama beberapa bulan penantian, aku mengajar di SD Imam
Ibnu Katsir Pekanbaru. Bersama anak-anak ternyata juga bisa menjadi penentram
hati dan pengalih dari pikian-pikiran yang meresahkan.
Alhamdulillah, Allah tau aku rapuh. Hingga dalam setiap
butir keraguan yang muncul, Ia selipkan segala yang kembali membuatku yakin. Hingga
kembali teguh hatiku di atas penantian.
Semoga ia disana juga selalu diberikan keteguhan dan
keyakinan dalam penantian ini.
“Kita saling menunggu. Meski terkadang menunggu tak
seinci pun menyeret kita untuk bertemu di titik rindu.Tak apa. Merindulah. Setidaknya rindu akan mengajarkan
kita untuk setia pada apa yang kita tunggu.”
Detik-detik Menjelang Hari Bahagia
Dulu, setiap mendapat undangan pernikahan, aku selalu
berandai-andai. Nama siapa yang akan bersanding dengan namaku di undangan itu. Siapakah
pria yang akan mendapatkan gadis manja dan biasa ini? Apa ia akan sabar dengan
kelakuanku yang kadang masih kekanakan? Apa ia akan tetap bertahan saat
mengetahui banyaknya kurangku?
Sembari membayangkan undangan cantik itu dengan hiasan bunga
mawar kesukaanku. Ya. Harus ada mawarnya, titik. ๐
Dan .... Jeng Jeng!
Menjelang hari pernikahan, kegalauanku makin menjadi-jadi saja.
Gugup, nervous, takut, deg-degan ulala yeyeye semua menjadi satu. Wajar. Bukan
cuma aku kan wanita yang merasa gugup disaat-saat seperti ini? Iya kan? Iya.
Udah. Iyakan aja.
Aku mencoba menenangkan perasaanku dengan becerita dan
meminta nasihat pada kawan-kawanku yang sudah lebih dulu mengecap pahit manis
nya berumah tangga.
Alhamdulillah, punya teman-teman shalihah baik hati yang
bisa buat hati ini lebih tenang.
Dahulu, aku sering bertanya-tanya. Apa itu pembuktian
cinta seorang lelaki pada wanitanya?
Apa dengan meneriakkan ‘aku sayang kamu’ pada dunia?
Apa dengan menulis dan memajang fotonya di media sosial?
Atau, dengan membuat 1000 candi? Ups.
Lalu pada hari itu, terjawablah pertanyaanku..
8 FEBRUARI 2017
“Saya terima nikahnya. Aulia dwi safitri binti Ali
Imran dengan mas kawin *sekian sekian* dibayar tunai,”
SAH.
Ia benar-benar membuktikannya pada hari itu.
Kemudian disambut oleh tangisan-tangisan haru bahagia. Tak
terkecuali Papa, yang aku dengar matanya juga sempat berkaca-kaca. Tentu saja.
Pasti tak mudah melepaskan putri kecilnya yang kini sudah beranjak dewasa akan
pergi bersama lelaki lain.
Lelaki yang sekarang akan menggantikannya memikul
tanggung jawab menjaga putrinya.
Dan dalam sekejap bakti putrinya pun telah berpindah
kepada lelaki itu.
Jangan khawatir, Papa.. putrimu jatuh pada pria yang
tepat. Pria yang berani mempertanggung jawabkan cintanya pada janji suci, bukan
dengan mengajaknya bermaksiat.
Dear lelaki yang dahulunya asing dan kini telah menjadi
suamiku,
Terimakasih, dari sekian banyak wanita yang lebih baik
dariku, engkau telah datang mengetuk pintu rumahku hari itu, untuk meminta
wanita yang tak sempurna ini untuk menjadi pendamping hidupumu dan membuat
kedua orangtua ku mempercayaimu untuk menjagaku.
Terimakasih telah membuatku percaya kini bahwa
sebenar-benar pembuktian cinta seorang lelaki sejati ialah membawanya pada
ikatan pernikahan dengan cara yang Allah ridhoi.
Semoga Allah selalu menjaga cinta kita dan mengekalkannya
kita hingga akhirat nanti. Aamiin Yaa Robb.
Dan dimulailah perjalanan cinta kami sejak hari itu....
"Maha Suci Allah, Ia tebarkan banyak cinta di muka
bumi...
Pada setiap bulir langit yang jatuh,
Atau juga pada hangat mentari di pagi hari
Serta ia titipkan juga pada hati hamba-hambaNya..
Namun sebaik-baik rasa adalah rasa cinta yang terjaga
Ia terjaga dalam lantunan do’a
Dan luluh dalam ketaatan pada-Nya
Hingga Allah ijabahkan dan pertemukan dua insan yang
menjaga
Dalam mahligai cinta yang berdasarkan ridhoNya
KepadaNya, Sang Pencipta Cinta..
Semoga kami senatiasa menjadi hamba yang menjaga"
-Aulia Dwi Safitri
Oleh : Aulia Dwi Safitri

๐ฅ๐ฅbaper๐๐๐
BalasHapusSemoga kita selalu diberi keistiqomahan ya ukh :)
HapusJujur aku sangat terharu, mengingatkan waktu dulu aku pertama bertemu dengan gadis pujaan hati. bedanya hanya pada hari H saja, maklum namanya cowok yang sudah pingin menikah tapi tak ada pasangan :D
BalasHapuscapcus, pertama ketemu langsung khitbah, 2 bulan kemudian langsung nikah...
btw, aku tunggu episode selanjutnya ya, sapa tau kita sama ceritanya :D :D
kak baperr๐ญ๐ญ,,,
BalasHapus